Senin, 16 Maret 2015
Mimpi Pencakar Langit
Pagi ini aku teringat jelas saat dimana waktu kecilku kuhabiskan untuk bermimpi. bukan aku sendiri, melainkan bersama sahabat - sahabat tercinta yang dulu mendapat kesempatan menempuh jam tambahan yang dulu dinamakan"KELAS UNGGULAN".Tak perlu kuceritakan bagaimana proses kami masuk ke sekolah mahal tersebut, sekolah yang harus mengalikan empat dari jumlah SPP sekolah reguler kami itu ternyata memberikan banyak waktu untuk kami bermimpi dan berkhayal dengan keyakinan penuh akan kenyataan yang mungkin akan kami hadapi kelak.kata kuncinya, "Sepeda Butut kesayangan", "Kawan dan Guru inspiratif yang menggelikan", dan "Mimpi Petang Hari di perbatasan".
Kelas dimulai pukul 14.00 tepat, selang satu jam dari jam pulang sekolah kelas reguler kami. apalagi kalau tidak sepeda butut kesayangan kami untuk menempuh jarak sejauh kurang lebih 7 Km selama 30 menit menuju sekolah yang dikatakan terbaik di Kota Kami. Sepulang sekolah, menyempatkan melahap makan siang lalu mengayuh sepeda untuk kembali mengasah otak. Kewajiban, buah dari harapan baik dari orang tua, teman, dan Guru di kelas reguler kami. Ya, saat itu kami memang bisa dikatakan duta dari kelas reguler kami untuk bagaimana bisa bersaing dengan kawan dari sekolah lain sekota. Namun, saat itu sedikitpun perasaan kami tak berfikir untuk bersaing. Kami harus lakukan kewajiban ini, menyelesaikanya, dan paling tidak mendapatkan ranking yang bisa dibanggakan supaya tidak menjadi bahan perbincangan. Memang benar, jalan tak selalu mulus terjal pun memang begitu keadaanya. 2 dari 7 Km jalan yang kami lalui belumlah terbalut selimut tebal keras berwarna hitam. Masih terdiri atas susunan batu dan tanah yang kami ingat sangatlah lebih pantas digunakan sebagai tempat bermain ayam atau bebek. Sepeda butut yang dulu menjadi saksi bisu, seakan ikut mengeluh dan terkadang minta dimanja lebih saat ia dikayuh cepat atau tidak berjalan di jalan yg mulus. Ban bocor, Pedal yang copot, rantai sepeda yang aus, sampai harus terperosok di sawah dan mendarat di aspal depan pasar besar pun tak luput memberikan ukiran dalam kenangan masa kecil kami. Tekat dan kepercayaan yang luar biasa besar, seolah menjadi pondasi yang sangat kuat untuk kami agar tak mudah tergoyahkan oleh kerasnya aspal dan lembutnya hujan.
Selalu menjadi perasaan yang membuat penasaran, apa yang akan kami peroleh selanjutnya esok hari. Kuceritakan, tak mudah untuk kami dengan cepat merubah sikap dan bergaul dengan orang baru. kawan kami baru, guru kami baru, lingkungan kami baru. Tak bisa kusebutkan kami pakai metode apa hingga akhirnya bisa akrab dan merajut kenangan dengan mereka, yang jelas alam dan lingkungan yang mengajari kami secara alami. Bukan masalah percaya diri, namun bagaimana bersikap menanggapi setiap respon yang diberikan oleh kawan - kawan baru kami yang tentunya berasal dari berbagai macam Suku dan Ras. Menjadi sebuah kelucuan saat kami saling menceritakan pengalam atas tanggapan - tanggapan yang saat itu Kami anggap aneh saat itu. Tragedi bola pingpong, Ayah yang menyeberang laut jawa, Bahasa inggris Yes No, POTLOD, Wansemor, sampai Bahasa Indonesia yang biasanya kami gunakan hanya saat membaca UUD'45 harus membuat lidah kami pegal - pegal karena harus diucapkan sehari - hari.Kisah cinta lutung, atau kisah cinta semut krangkang...hahahaha. Sungguh menggelikan, saat itu kami memiliki teman gadis yang membuat berbunga - bunga saat sedikit saja kita berkomunikasi dengan mereka. Sangat Kami harapkan untuk dapat bersua kembali, kapan dan entah dimana.
Bagai seorang notulen rapat. Sentono, tempat dimana kami merangkum semua kejadian sehari - hari dalam otak dan imajinasi kami. Seolah menjadi catatan batu yang tak akan mudah terkikis oleh waktu. Sepanjang 5 kali lapangan bola, dikelilingi persawahan, pohon sebagai trotoar jalan, menatap kedepan membentang sebuah desa kelahiran dan bukit impian. Bermimpi untuk menjadi kaya untuk digunakan uangnya memenuhi kebutuhan yang mungkin berguna untuk diri sendiri dan semua orang yang memang pantas untuk di layakkan kehidupanya. Membeli bukit impian, membuat rumah yang besar, membeli barang keinginan, dan yang paling tercetak jelas, menjadi"ORANG YANG BERGUNA BAGI NUSA, BANGSA, DAN NEGARA", itu yang saat ini saya sadari sebuah mimpi besar yang menuntut kami harus siap menghadapi apapun kelak di masa depan. Mimpi itu, terkadang membuat kita dikatakan seorang yg tidak memiliki mimpi yang jelas untuk dicapai di masa depan. Namun, pembelaanya adalah saat kalimat itu terucap, untuk Negeri seluas ini Kita juga layak bermimpi seluas - luasnya. Negeri ini butuh kelengkapan dan rasa saling melengkapi, sedikit saja luput dari mimpi jadilah kau hanya penumpang di Bus besar bernama Indonesia ini. Bukankah lebih baik jadi mesin, stir, sopir, rem, kopling atau apapun itu yang bisa ssaja lebih berguna dari sekedar penumpang. Waktu disaat matahari mulai tenggelam di balik bukit impian, tenggelam perlahan dan menggelapkan jagad raya, sebagai tanda bahwa harus bergegas Kami untuk mengayuh sepeda dan lekas sampai dirumah. Cukup untuk Rangkuman hari ini, karena besok akan ada rangkuman dan yang lebih luar biasa lagi untuk membangun mimpi pencakar langit kita. Janganlah berganti dan tetaplah seperti ini Kawan.
Salam rindu untuk sahabat pelopor( Ruddy, Irawan, Doni ), semoga kelak kita dapat bersua kembali di tanah pertiwi ini. merealisasikan segala bentuk mimpi dan cita - cita Kita. Selamat berjuang dan Selamat untuk semuanya yg telah menjadi pencapaian.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar